Cinta.
Aku berada di sudut kamarku
ketika menulis bagian ini. Berhadapan langsung dengan pintu, atau mungkin
berhadapan langsung juga dengan kenangan masa lalu. Aku sungguh tak percaya ini
terjadi. Sekarang hanya tinggal sisa – sisa kejadian saat itu. Aku berharap
mengulang kembali. Tapi kawan, jam saja takkan pernah berhenti. Izzar kecil ini
sangat berbeda saat dia memutuskan hubungan kita. Aku merasakan cinta itu apa.
Dan ini yang dia rasakan sedari dahulu.
Perkenalkan, aku Izzar. Aku anak
pertama. Ini bagian cerita pertamaku dengan ditemani kopi pertama malam ini.
Untuk membahas jalan kisah cinta pertamaku. Aku menyukai sesuatu yang berbau
warna biru sampai sekarang. Aku dibesarkan dari jalur pendidikan swasta
bernuansa islami. Hingga diserahkan kepada pihak Pondok Pesantren untuk
mendidikku saat masa remajaku.
Disinilah semuanya akan berlanjut
penuh kisah. Aku akui kisah ini sangat menarik. Bayangkan saja di lingkungan
yang sangat islami, ada satu orang laki – laki dengan jiwa dan pikirannya
mencintai seorang wanita. Ah, itu sungguh masa terindah. Kau tahu kan kawan –
kawan bagaimana terbayangnya anak pesantren dalam persahabatannya? Disini juga
akan kuceritakan.
Namanya Safira. Indah terdengar
bukan? Kekhasannya membawa aura sendiri bagi teman temannya. Ia penuh energik
dengan sifat feminim yang melekat. Kacamatanya mempercantik wajahnya. Kalau kau
melihatnya, jangan menatapnya lama. Karena memang senyumnya sangat mempesona.
Matanya memberikan rasa rindu. Hingga cara berjalannya pun sungguh menunjukkan
bahwa kedatangannya bermakna.
Oh tuhan.
Aku suka dia.
Hingga saat ini.
-/\-
Komentar
Posting Komentar